sekolah masa depan

sekolah masa depan

Senin, 31 Mei 2010

Aku Akan Hidup Benar Dari Jam Ke Jam

Habis Sholat Isya, seorang Gadis kecil mendatangi ayahnya yang belum selesai sholat sunnah. Setelah mengucapkan salam, Sang ayah menatap anaknya.
” Ada apa, Nak ? “
“Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata,
“Tidak, nak. Manusia sering melakukan kekhilafan secara sadar maupun tidak. Itulah kenapa kita diperintahkan memohon ampun kepada Alloh setiap hari”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
“Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

“Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”

Ayahnya tertawa, “Itu sangat sulit, nak”.

“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”.

Ayahnya berfikir sebentar. Kemudian Ia mengangguk,
“Jika dia berusaha dan Alloh memberikan Hidayah, kemungkinan besar bisa”.

Anak ini tersenyum lega.
“Jika demikian, aku akan berusaha hidup benar dari jam ke jam, ayah.
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar…. “

Sang Ayah berkaca-kaca menatap Putrinya:
” Apa yang kau katakan penuh dengan Hikmah, semoga Alloh selalu memberimu petunjuk Nak..”

oOo
“Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” tanya Rosulullah.

Dengan paercaya diri ia menjawab, “Alhamdulillah, ya Rosulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.”

Rosulullah bertanya kembali, “Hai Hudzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya, maka apa bukti dari pernyataanmu itu?”

Jawab hudzaifah r.a. “Ya Rosulullah, tidak ada suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari, dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas didepan mataku syurga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya sikasa.”

Rosulullah Saw mengatakan, ” Arofta falzam, kamu sudah tahu maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”

Tolong, Maafkan Aku Kawan

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga.

Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

******

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.

Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.
Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan.**

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Catatan: Cerita ini pernah dimuat di milis resonansi pada tanggal 14
Oktober 2007, 29 Oktober 2005, 12 Nopember 2004, dan 2 September

Cintailah Apa Adanya

Cintailah Apa Adanya

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Hikmah : Di bawah naungan ajaran Islam, kedua pasangan suami istri menjalani hidup mereka dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain.

Di antara keagungan al-Qur’an dan kesempurnaannya, kita melihat semua makna tersebut, baik yang sempat terhitung atau pun tidak, tercermin pada satu ayat al-Qur’an, yaitu:
“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah:187)

Sumber :Inspiring Stories II from Facebook

Kiat Menata Keluarga

Sebelas Kiat Menata Keluarga Islami

karikatur_familiBagaimanakah wujud keluarga Islami itu? Bayangan anda tentang suami isteri yang bertingkah laku bagai malaikat serta rahmat Allah yang senantiasa melimpahi kebutuhan hidup mereka tentu bukanlah gambaran yang benar. Ajaran Islam sendiri merupakan ajaran yang dirancang bagi manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan dan siap diterapkan dalam berbagai keadaan yang menyertai hidup manusia.

Jadi, jika anda menemui goncangan-goncangan yang menyangkut diri anda dalam masalah pribadi, hubungan dengan suami atau isteri dan anak-anak, atau dalam berbagai kondisi yang menyertai keluarga, janganlah anda panik dulu atau merasa dunia hampir kiamat. Sebab, justru dalam momen seperti itulah anda dapat memperlihatkan komitmen sebagai seseorang sebelum dibuktikannya melalui amal kehidupan.

Ada beberapa hal yang patut anda perhatikan dalam upaya menumbuhkan keluarga bahagia menurut ajaran Islam atau dalam menghadapi berbagai persoalan, diantaranya;

1. Fikrah yang jelas
Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Kalaulah Umar bin Khattab menggebah para pedagang di pasar yang tidak memahami fiqih (perdagangan), maka layak dipandang sebagai sebuah kekeliruan besar seseorang yang menikah namun tak memahami dengan jelas apa hakekat pernikahan dalam Islam dan bagaimana kaitannya dengan kemajuan dakwah.

2. Penyatuan idealisme
Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Pada detik itu sesungguhnya tengah terjadi pertemuan dua pemikiran, perjumpaan dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.

3. Mengenal karakter pribadi
Kepribadian manusia ditentukan oleh berbagai unsur lingkungan: nilai yang diyakini dan pengaruh sosialisasi perilaku lingkungan terdekat serta lingkungan internal (sifat bawaan) itu sendiri. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Satu catatan penting mengenai hal ini ialah anda harus menyediakan kesabaran selama proses pengenalan itu berlangsung, sebab hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

4. Pemeliharaan kasih sayang
Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau isteri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban, meredam kemelut dan mengurangi rasa lapar.

5. Kontinuitas tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama. Penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab suami khususnya, kaum lelaki muslim umumnya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW meluluskan permintaan ta’lim (pengajaran) para wanita muslimah yang datang kepada beliau. Beliau memberikan kesempatan khusus bagi pembinaan wanita dan kaum ibu (ummahaat). Perbedaan perlakuan tarbiyah antara suami dan isteri akan membuat timpang pasangan itu dan akibatnya tentu kegoncangan rumah tangga.

6 Penataan ekonomi
Turunnya Surat al Ahzab yang berkaitan dengan ultimatum Allah SWT kepada para isteri Nabi SAW, erat kaitannya dengan persoalan ekonomi. Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah (bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh) adalah sikap yang patut ditampilkan isteri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).

7. Sikap kekeluargaan
Pernikahan antara dua anak manusia sebenarnya diiringi dengan pernikahan ”antara dua keluarga besar”, dari pihak isteri dan juga suami. Selayaknyalah, dalam batas-batas yang diizinkan syari’at, sebuah pernikahan tidak menghancurkan struktur serta suasana keluarga. Pernikahan janganlah membuat suami atau isteri kehilangan perhatian pada keluarganya (ayah, ibu, adik, kakak dan seterusnya). Menurunnya frekuensi interaksi fisik (dan ini wajar) tidak boleh berarti menurun pula perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, perlu ditegaskan juga bahwa pernikahan adalah sebuah lembaga legal (syar’i) yang harus dihormat keberadaannya. Sebuah kesalahan serius terjadi tatkala seorang isteri atau suami menghabiskan perhatiannya hanya untuk keluarganya msing-masing sehingga tanggung jawabnya sebagai pasangan keluarga di rumahnya sendiri terbengkalai.

8. Pembagian beban
Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta’awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.

9. Penyegaran
Manusia bukanlah robot-robot logam yang mati. Manusia mempunyai hati dan otak yang dapat mengalami kelelahan dan kejenuhan. Nabi SAW mengeritik seseorang yang menamatkan Al Quran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Dalam ta’lim beliau SAW juga memberikan selang waktu (dalam beberapa riwayat per pekan), tidak setiap saat atau setiap hari. Variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Dengan demikian, keluarga yang bahagia tdak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Di samping tarbiyah, keluarga membutuhkan rekreasi (perjalanan, diskusi-diskusi ringan, kemah, dll).

10. Menata diri
Allah SWT mengisyaratkan hubungan yang erat antara ketaqwaan dan yusran (kemudahan), makhrojan (jalan keluar). Faktor kefasikan atau rendahnya iman identik dengan kesukaran, kemelut dan jalan buntu. Patutlah pasangan muslim senantiasa menata dirinya masing-masing agar jalan panjang kehidupan rumah tangganya dapat diarungi tanpa hambatan dan rintangan yang menghancurkan.

11. Mengharapkan rahmat Allah
Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang Salih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan al Khaliq harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.

Pencari Kayu Bakar

Aku Yang Mencari Kayu Bakar !

Pada suatu hari Rasulullah Saw pergi dalam sebuah perjalanan jauh bersama para sahabatnya. Di tengah perjalanan mereka ber-istirahat dulu dan mendirikan kemah di padang pasir. Kebetulan mereka membawa seekor domba.

Maka salah seorang sahabat berkata, “Aku akan memotong domba itu.” Sedang yang lain berkata pula, “Aku yang akan mengulitinya,” dan sahabat yang lain lagi berkata, “Aku yang akan memasaknya nanti.”
Lalu Rasulullah berkata, “Dan aku yang akan mencari kayu bakarnya.”

Para sahabat terperanjat dengan ucapan beliau. Mereka segera berkata, “Tidak usah ya Rasulullah, biar kami saja yang melaku-kan semuanya. Baginda beristirahat saja sampai masakan iniselesai.”

Rasulullah kemudian bersabda kepada mereka semua, “Demi Allah, aku tidak akan tinggal diam sementara kalian semua bekerja. Allah membenci hamba-Nya yang mengistimewakan dirinya dari saudara-saudaranya.” Setelah mengucapkan sabda-nya beliau pergi mencari dan memanggul sendiri kayu bakar yang didapatnya.

Sumber: Anisul Mukmin, Safwak Sa’dallah Al Mukhtar

Al Aqsha

Skenario Zionis Menghancurkan Al-Aqsa

Foto menunjukkan sebuah parit sedang digali dengan latar belakang Masjid Kubah Batu

Israel bernafsu untuk menghancurkan dan melenyapkan Masjid Al-Aqsa dari Yerussalem.

Melenyapkan Masjid Al-Aqsa dari kota tua Yerussalem merupakan agenda besar yang tengah dilakukan Zionis Israel. Proses penggalian terowongan di bawah Haram al-Sharif yang berada di kota suci Al-Quds, sebelah timur Yerussalem, merupakan bukti betapa Zionis berupaya meruntuhkan kiblat pertama umat Islam itu.

Aktivitas penggalian terowongan di bawah tempat suci umat Islam itu terus dilakukan, meski Muslim di Palestina menolaknya. Akibatnya, pondasi Masjid al-Aqsa pun banyak yang mengalami kerusakan. “Pengerjaan di bawah tempat suci itu telah mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada bagian pondasi Masjid al-Aqsa,” ungkap Syekh Raed Salah, pemimpin Pergerakan Islam kepada IslamOnline.net.

Aktivitas penggalian terowongan yang dilakukan Israel di kota tua Al-Quds itu telah berlangsung selama 42 tahun. Rakyat Palestina dan beberapa organisasi di Israel, termasuk Israeli Committee Against House Demolition, mencium adanya rencana busuk di balik pembangunan terowongan itu. Tujuan utama Israel yang sebenarnya adalah menciptakan rute akses bawah tanah untuk menyerang al-Aqsa dan tem-tempat suci lainnya milik umat Islam.

Keretakan tiang pondasi Masjid Al-Aqsa yang ditengarai akibat penggalian terowongan ilegal di bawah Masjid Al-Aqsa.

“Saya yakin, fondasi Masjid al-Aqsa sudah sangat melemah akibat pembangunan terowongan dan penggalian lainnya,” tutur Syeikh Salah. “Anda tak perlu menjadi seorang arsitek yang hebat untuk menyadari kerusakan ini. Kami telah melihat lubang-lubang dan retakan di seluruh area Masjid al–Aqsa.”

Tahun 2008, halaman Masjid al-Aqsa sudah mengalami longsor akibat tindakan penggalian Israel. Bahkan, air mancur dekat Qaitbay yang berada di bagian barat masjid telah ambruk. Syekh Salah sangat yakin, Israel ingin menghancurkan dan melenyapkan Masjid al-Aqsa dari Yerussalem.

“Mereka (Israel) mencoba menghancurkan Masjid al-Aqsa lewat penggalian ini. Mereka ingin melenyapkan bangunan suci ini dengan cara-cara yang seakan-akan alami, seperti sebuah gempa bumi,” papar Syekh Salah pada sebuah kesempatan. Israel pun tengah berupaya menghapus memori umat Islam di seluruh dunia dari Masjid al-Aqsa yang sebenarnya.

Terowongan di bawah Masjid al-Aqsa yang dibuat oleh Israel jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum internasional. (Foto diambil pada 3 Februari 2007)

Caranya, media-media Barat kerap menampilkan gambar Masjid kubah Batu (Dome of Rock) untuk menyebut Masjid al-Aqsa (Baca selengkapnya di artikel: Yang Manakah Masjidil Aqsa). Tak sedikit umat Islam yang secara tak sadar telah terpengaruh konspirasi Zionis itu. Begitu banyak umat Islam yang menganggap Masjid Kubah Batu sebagai Masjid al-Aqsa. “Zionis tengah berkonspirasi untuk menghilangkan Masjid al-Aqsa yang sebenarnya dari memori umat Islam’” tutur sebuah video yang ditayangkan YouTube.

Direktur Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof. HM Quraish Shihab, mengaku tak heran melihat tindakan brutal yang dilakukan Zionis Israel terhadap Masjid al-Aqsa. “Yang saya heran justru bila dunia termasuk negara-negara Islam diam diri menyaksikan tindakan brutal dari orang-orang Yahudi tersebut,” tutur mantan duta besar republik Indonesia untuk Mesir itu.

Menurut Quraish, telah banyak bantuan moril maupun materil yang diberikan umat Islam, termasuk umat Islam dari Indonesia untuk Palestina. “Masalahnya aksi kebrutalan tersebut berlangsung cukup lama sejak 1948. Karena itu, yang terpenting bagaimana agresi itu bisa segera diselesaikan.”

Ketua Umum Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof. Muslimin Nasution, mengungkapkan, sudah sejak lama Zionis Israel selalu membuat ulah dengan berbagai dalih untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa. “Sekarang ini alasannya ingin mencari harta karun yang ada di bawah Masjid al-Aqsa. Apakah ini masuk akal?” ungkapnya.

Replika dari Haikal Sulaiman (Solomon Temple) yang ingin dibangun Zionis di atas kompleks Al-Aqsa

Padahal, Masjid al-Aqsa merupakan pusat sejarah bagi umat Islam di seluruh dunia. Menurut dia, Masjid al-Aqsa merupakan sejarah bagu umat Islam di seluruh dunia, karena Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Selain itu, Masjid al-Aqsa juga merupakan kiblat pertama bagi umat Islam di dunia.

Cendikiawan Muslim, DR. Adian Husaini, mengungkapkan sejak lama Zionis Israel berencana menghancurkan Masjid al-Aqsa. “Menurut saya, Zionis Israel itu bukan sekedar punya niat jahat kepada Masjid al-Aqsa, tapi sejak lama yakni sejak tahun 1969 Zionis Israel berusaha menghancurkannya, untuk kemudian diganti dengan Solomon Temple. Dan itu sudah sangat terbukti.”

Tentara Israel di dalam Masjid Al-Aqsa

Berkat kepedulian media massa termasuk media elektronik dari seluruh dunia yang membongkar rencana buruk kaum Yahudi itu, papar Adian, upaya mereka meruntuhkan Masjid al-Aqsa mendapat perlawanan dari dunia. “Kita juga patut memuji dan bersyukur kepada anak-anak dan bangsa Palestina yang dengan gigihnya tanpa mengenal rasa takut kehilangan nyawa berusaha sekuat tenaga mempertahankan Masjid al-Aqsa,” cetus Adian.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Komaruddin Hidayat, menyatakan, rapuhnya solidaritas negara-negara Arab merupakan salah satu faktor yang membuat Israel kian brutal terhadap umat Islam di Palestina dan makin berani mencaplok Masjid al-Aqsa.

Tentara Israel mengontrol keluarga Palestina yang ketakutan saat rumahnya sedang dihancurkan oleh Zionis di Yatta, selatan Hebron.

“Sebagai bangsa Muslim yang tidak punya kepentingan langsung terhadap konflik di Timur Tengah, Indonesia bisa lebih bijak dan fleksibel melakukan manuver. Karena itu, Presiden atas nama bangsa Indonesia mestinya menjadi mediator,” tutur Komaruddin. Negara-negara Arab tampaknya lebih sibuk mengurus kepentingannya masing-masing dan mulai abai dengan nasib Masjid al-Aqsa yang kian merana.

Pemimpin Persatuan Ulama Dunia, Syekh Yusuf Al-Qardhawi, mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk menjadikan hari jum’at lalu (30/10/09) sebagai hari solidaritas kemarahan atas serbuan Zionis ke Masjid al-Aqsa.

Sumber :
Tabloid Republika, Dialog Jumat, 6 November 2009 (Editor : Heri Ruslan)

http://realisticbird.wordpress.com/2009/05/20/al-aqsa-facing-real-immediate%e2%80%9d-danger/

http://www.multaqa.org

Akar-akar Akhlak Tercela (Penyakit Akhlak)

Akar Penyakit Akhlak

Sebagaimana akhlak terpuji, akhlak tercela juga memiliki akar kemana satuan-satuannya dapat dikelompokkan. Jika akar perilaku manusia ada dalam pikiran dan jiwanya, maka akar penyakit akhlak juga akan selalu ada disana.

Mengenai hal itu, Ibnul Qayyim menyebutkan dua akar penyakit akhlak, yaitu :
Pertama, penyakit syubhat. Penyakit ini menimpa wilayah akal manusia, dimana kebenaran tidak menjadi jelas (samar) dan bercampur dengan kebatilan (talbis). Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia memahami secara baik dan memilih secara tepat.

Kedua, penyakit syahwat. Penyakit ini menimpa wilayah hati dan insting manusia, dimana dorongan kekuatan kejahatan dalam hatinya mengalahkan dorongan kekuatan kebaikan. Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk mengendalikan diri dan bertekad secara kuat.

Syhubhat

Lebih jauh lagi, penyakit syubhat sesungguhnya berkaitan dengan pemahaman dasar manusia dan struktur pemikirannya. Akarnya adalah ilmu yang belum sempurna dan mendalam bertemu dengan kecenderungan jiwa untuk menyimpang (zaeghun). Allah SWT berfirman dalam hal ini,

”…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat…” (Ali Imran:7)

Karena itu, akar penyakit ini dapat ditelusuri pada kemampuan dasar manusia dalam memahami; adanya kelemahan logika atau penyalahangunaan logika; ketidakmampuan memahami hakikat sesuatu secara benar; kesalahan metodologis dalam berpikir yang menyebabkan lahrnya kesimpulan yang juga salah; dan penyimpangan pemahaman keagamaan yang menyebabkan lahirnya bid’ah dan aliran sesat.

Orang-orang yang menderita penyakit ini biasanya memiliki keberanian luar biasa terhadap Allah SWT (baca: kebenaran), kegemaran luar biasa untuk berdebat, dan sifat ngotot dalam mempertahankan pendapat sendiri, sekalipun sesungguhnya ia tidak pernah memiliki keyakinan yang kuat dan selalu ragu dalam segala hal.

Lawan dari penyakit ini adalah ilmu yang benar dan mendalam, yang kemudian menimbulkan keyakinan yang kuat yang tidak disertai keraguan.

Pada akhirnya, penyakit syubhat ini melahirkan kekufuran, bid’ah, dan nifaq.

Syahwat

Adapun penyakit syahwat pada umumnya lahir dari lemahnya kehendak hati (iradatul khair) dalam hati seseorang, baik untuk melakukan kebaikan (positif) maupun untuk melawan dorongan kejahatan dalam dirinya. Sebagaimana contoh, Allah SWT berfirman tentang Adam as.
”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Tha ha: 115)

Dorongan-dorongan kejahatan itu sendiri pada dasarnya berasal dari insting manusia, yang sebagiannya adalah kebutuhan dasar yang memberikan vitalitas dan dinamika kehidupan kepada manusia. Insting seksual, misalnya, pada kadar tertentu dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia. Akan tetapi, ia menjadi kejahatan saat tuntutan pemuasannya menjadi berlebhan dan cara pemenuhannya keluar dari jalur syariah. Demikian pula insting berkuasa, misalnya, ia dibutuhkan untuk menciptakan kemampuan memimpin dan bermasyarakat dalam kehidupan manusia. Namun, jika kadarnya melampui batas yang natural dan cara pemenuhannya keluar dari jalur syariah, maka ia menjadi ancaman bagi kebaikan.

Disamping itu, Ibnul Qayyim juga menjelaskan jenis syahwat yang kemudian menjadi akar dari semua bentuk dosa manusia. Adapun jenis syahwat itu adalah sebagai berikut:

Syahwat kekuasan, berarti bahwa dorongan berkuasa dalam diri seseorang begitu kuat sampai tingkat dimana ia mulai menyerap sebagan dari sifat yang hanya layak dimiliki Allah SWT. Hal ini dimulai dari yang terkecil-senang dikagumi (sum’ah), senang disanjung di depannya (riya’), dan merasa puas diri (ghuhur), sampai pada yang hal yang besar-sombong, angkuh, jabarut, mengintimidasi, dan zalim. Syahwat inilah yang kemudian mendorong manusia sampai pada tingkat yang lebih jauh lagi, yaitu syirik. Inilah dosa yang membuat Fir’aun terlaknat.

Syahwat kesetanan, berarti bahwa ada dorongan yang kuat dalam diri seseorang untuk menyerupai setan dalam berbagai bentuk perilaku dasarnya. Misalnya, memiliki sifat benci, dengki dan dendam, gemar menipu, membuat ulah dan makar, menyebarkan gosip, memfitnah, menyesatkan orang lain, dan semacamnya. Syahwat ini biasanya mempertemukan antara kecerdasan di satu sisi, dengan dorongan setan di sisi lain. Karena itu, pelakunya cenderung licik dan culas dalam pergaulan serta berwajah ganda.

Syahwat binatang buas, syahwat ini berasal dari nafsu amarah dan angkara murka, seperti api yang cenderung membakar dan membumihanguskan. Jika syahwat angkara murka bertemu dengan kekuatan fisik yang mendukung, maka lahirlah berbagai macam perilaku buruk, seperti permusuhan, debat, penjajahan, pembunuhan, tirani, penodongan, dan perkelahian.

Syahwat binatang ternak, syahwat ini berasal dari naluri binatang dalam diri manusia dan mendorongnya untuk memenuhi kebutuhan perut dan kemaluannya secara berlebihan. Penyakit syahwat ini mendorong manusia menjadi hedonis, permisif, dan berpikir jangka pendek. Dari syahwat perut lahirlah sifat-sifat serakah, rakus, memakan harta anak yatim, pelit, mencuri, korupsi, sifat pengecut, penakut, dan semacamnya. Adapun dari syahwat kemaluan lahirlah perzinaan.

Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam penyakit syahwat binatang ternak. Sebab, pemenuhannya tidak membutuhkan banyak kecerdasan, atau kekuatan fisik, atau wilayah kekuasaan. Sementara itu, syahwat binatang buas biasanya menimpa orang-orang yang kuat secara fisik, namun tidak memiliki rasa kasih, kemurahan hati, dan naluri sosial yang baik. Adapun yang terakhir, yaitu syahwat kekuasaan yang luas, dukungan pasukan militer yang kuat, rakyat yang miskin, bodoh, lemah dan tidak berdaya, serta tekologi yang tinggi dan canggih.

Kelemahan Akal dan Jiwa

Demikianlah, kita melihat bahwa kedua penyakit itu, penyakit syubhat dan syahwat, sama bersumber dari kelemahan akal dan jiwa. Penyakit syubhat bersumber dari kelemahan akal sehingga penderitanya tidak memiliki ilmu dan keyakinan. Adapun penyakit syahwat bersumber dari kelemahan jiwa yang membuat penderitanya tidak memiliki kemauan yang kuat sampai pada tingkat azam (tekad). Perhatikanlah skema dibawah ini :

Kelemahan akal -> Kedangkalan ilmu -> Penyakit Syubhat
Kelemahan jiwa -> Kelemahan kemauan -> Penyakit Syahwat