sekolah masa depan

sekolah masa depan

Senin, 31 Mei 2010

Taujih Cerdas dan Mencerahkan (Anis Matta)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ikhwah sekalian, sebelum saya memulai taujih ini. Saya pertama-tama ingin menyampaikan salam dari ikhwah kita semuanya di Kalimantan Timur. Karena saya baru saja mendarat dari Kalimantan Timur menjelang maghrib dan langsung ke tempat ini.

Walaupun di semua survey sebelumnya mereka hanya ditetapkan di nomor dua, tetapi Alhamdulillah dalam Pilkada kemarin mereka berhasil masuk di nomor satu (sementara). Cuma karena belum cukup 30%, maka harus bertarung lagi dalam putaran ke dua. Tapi kita berharap Insya Allah, gelombang kemenangan ini seperti gelombang yang tadi kita saksikan di sini yang sedang melanda lautan besar Indonesia.

Ikhwah sekalian, kalau hanya sekedar untuk mengantarkan 131 caleg ke kursi DPR-RI atau beberapa orang ke kursi Kabinet, lalu kita hadir dan menginap di sini berlelah-lelah, rasanya amal siyasiy itu terlalu sederhana. Kalau hanya untuk sekedar mendapatkan kebanggaan sejarah, karena kita memenangkan pemilu 2004 dan akan memenangkan pemilu 2009, rasanya kelelahan-kelelahan kita ini menjadi pekerjaan yang terlalu sederhana. Kita perlu menegaskan ini semuanya, karena pada dasarnya tujuan kita -ikhwah sekalian- jauh lebih suci, jauh lebih mulia dan jauh lebih besar dari pada sekedar itu semuanya.

Kita ingin memenangkan pemilu ini karena merupakan bagian dari tahqiqul ‘ubudiyah, cara kita merealisasikan ibadah kepada Allah SWT. Dan bagian yang paling penting dari tahqiqul ‘ubudiyah itu adalah tahqiqul muradillah, merealisasikan kehendak-kehendak Allah SWT dimuka bumi ini. Dan kehendak-kehendak Allah itu -ikhwah sekalian- secara eksplisit dinyatakan dalam apa yang disebut oleh ulama-ulama sebagai maqashidu syari’ah, tujuan-tujuan dasar syari’at itu diturunkan. Mulai dari menjaga nyawa, menjaga harta, menjaga kehormatan, menjaga akal. Semua itu merupakan maqashidus syari’ah yang dengan menegakkannya, maka kita melakukan suatu hal yang merupakan tujuan hidup kita yaitu tahqiqul ‘ubudiyah. Dan dengan menegakkan maqashidu syari’ah itu -ikhwah sekalian- mudah-mudahan kita telah merealisasikan derivasi selanjutnya dari ma’na ‘ubudiyah yaitu isti’marul ardh (memakmurkan bumi). Risalah ini menjadi jauh lebih penting bagi kita semuanya, terutama karena pemilu 2009 akan berlangsung di saat negeri kita -sekali lagi- mengalami krisis besar yang mungkin bisa lebih besar dari krisis pada tahun 1997.

Oleh karena itu kemenangan kita pada tahun 2009 -ikhwah sekaliah- bukan hanya merupakan faridhah syar’iyah, bukan hanya merupakan kewajiban syari’ah, tapi juga merupakan dharurah wathaniyah, merupakan suatu keharusan dan keniscayaan nasional. Karena kemenangan kita pada tahun 2009 yang akan datang adalah suatu rangkaian proses penyelamatan bagi bangsa Indonesia.

Ikhwah sekalian, sepuluh tahun sudah kita mendobrak sistem otoriter. Dan memulai sebuah kehidupan baru dalam suatu bingkai sistem demokrasi. Tapi sampai saat ini sebagaimana demokrasi pada masa Sukarno gagal menciptakan kesejahteraan. Dan kesejahteraan pada masa orde baru harus dibayar dengan menghilangkan demokrasi. Sepuluh tahun masa reformasi ini adalah tahun-tahun kegelisahan, tahun-tahun pencarian, tahun-tahun dimana kita semua menyatakan pemberontakan. Tetapi tidak benar-benar tahu kemana seharusnya kita melangkah. Tahun-tahun dimana kita menyatakan ada enam visi reformasi mahasiswa, tetapi pada waktu yang sama sepuluh tahun kemudian kita menyaksikan bahwa visi itu sampai saat ini belum juga terealisasi. Tapi kita semua -ikhwah sekalian- bertanggung jawab secara moral. Karena kitalah yang mendobrak sistem itu. Kita yang menghancurkan dan menjatuhkan sistem itu. Lalu kemudian menggantinya dengan sistem yang baru. Tidak ada yang salah dengan sistem ini, yang salah adalah karena yang terjadi adalah bahwa syarat-syarat kebangkitan sebuah bangsa, sebagaimana yang kita pelajari dalam doktrin-doktrin dakwah kita belum sepenuhnya terpenuhi. Syarat pertama dalam kebangkitan suatu umat dalam doktrin dakwah kita adalah al-yaqizhatur ruhiyah (kebangkitan spiritual). Syarat yang kedua adalah al-wa’yul fikri (kesadaran pemikiran), adanya agenda, adanya manhaj yang jelas dalam bekerja. Dan syarat yang ketiga adalah al-qiyadatul qawiyah (kepemimpinan yang kuat).

Sepuluh tahun reformasi ini adalah sepuluh tahun kegelisahan. Karena kita semua berhasil membangkitkan masyarakat Indonesia untuk menyatakan kekecewaannya kepada sebuah rezim dan mengakhiri rezim itu dan kemudian berusaha bersama memulai suatu hidup baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Ikhwah sekalian,

Ada keinginan yang kuat pada seluruh masyarakat. Tetapi seperti orang yang baru saja bangun, kita belum berwudlu. Kita baru bangun dan baru meninggalkan tempat tidur, baru membuka mata dan baru berjalan terseok-seok. Bahkan menghadapi kenaikan harga BBM dunia pun, kita tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi ikhwah sekalian, kebangkitan telah kita mulai pada jalurnya yang benar. Oleh karena kegelisahan itu adalah awal dari kebangkitan itu, dan kegelisahan itu tampak besar adalah wajah dari al-yaqizhatur ruhiyah (kebangkitan spiritual). Kita sudah mempunyai agenda; ada apa yang kita sebut dengan visi reformasi. Tahun ini juga kita mengeluarkan platform perjuangan kita untuk menegakkan masyarakat madani. Tetapi syarat untuk kebangkitan yang total belum sepenuhnya terpenuhi, karena masih ada syarat yang ketiga yaitu munculnya al-qiyadatul qawiyah (kepemimpinan yang kuat). Mudah-mudahan tahun 2009 itu adalah saat dimana kita menyempurnakan syarat ketiga dari kebangkitan kita semuanya di Indonesia, Insya Allah.

Oleh karena itu ikhwah sekalian, kita di TPPN sejak awal ingin menegaskan jargon ini. Begitu kita memperingati Milad ke 10 PKS, kita mengingatkan antum semuanya kepada angka-angka ini. Sepuluh tahun PKS, Sepuluh tahun reformasi dan Seratus tahun kebangkitan nasional. Ini adalah apa yang disebut oleh Sayid Quthb dalam banyak tulisan-tulisan beliau sebagai ash-shudfatul maqdurah (kebetulan yang ditakdirkan). Sepuluh tahun kelahiran PKS adalah sepuluh tahun kegelisahan dan sepuluh tahun pembelajaran dan juga sepuluh tahun reformasi. Sepuluh tahun reformasi adalah juga sepuluh tahun kegelisahan. Ada visi tapi tidak ada yang terealisasi. Lalu kita mengingatkan antum semuanya, bahwa jika sepuluh dikali sepuluh itu maka kita akan mendapatkan angka seratus. Seratus kebangkitan nasional yang lalu. Untuk kita mulai suatu usaha baru seratus tahun Indonesia masa depan.

Ikhwah sekalian,

Seratus tahun yang lalu ceritanya persis sama seperti cerita kita malam ini. Juga adalah cerita kegelisahan. Budi Utomo, Syarikat Islam dan ormas-ormas Islam, ormas-ormas nasional yang lainnya pada waktu itu semuanya adalah ungkapan-ungkapan kegelisahan. Ada kesadaran yang begitu kuat di dalam jiwa mereka bahwasanya mereka adalah satu bangsa yang utuh. Mereka tahu namanya dan juga mereka tahu rasanya, tetapi mereka belum terlalu fasih membahasakannya. Pada tahun 1928 Sumpah Pemuda mengejawantahkan semangat itu kembali dalam sumpah yang singkat tetapi jelas menyatakan identitas bangsa kita. Dan dari situlah dimulai sebuah revolusi. Ujung dari revolusi itu adalah kemerdekaan kita pada tahun 1945. Tapi jika setelah kita merdeka dan kemudian kita berumur 63 tahun sebagai sebuah bangsa merdeka, tiba-tiba saja kita dikagetkan oleh sebuah fakta, kenapa bangsa ini pada usianya yang ke-63 tampak begitu tua dan lelah. Karena ikhwah sekalian, cita-cita mereka seratus tahun yang lalu sudah tercapai. Cita-cita mereka adalah mendirikan sebuah Negara, bangsa yang merdeka dan berdaulat dan itu sudah tercapai. Dan Imam Ghazali mengatakan “segala sesuatu yang sampai pada puncaknya, harus memulai kekurangannya”.

Oleh karena itu, ikhwah sekalian, pentinglah kita menyadari suatu fakta, suatu hakikat besar di dalam sejarah bahwasanya jika cita-cita kita di dalam hidup itu kecil dan kemudian kita sudah mencapai cita-cita itu pada umumnya kita tidak lagi mempunyai sumber energy untuk bergerak. Bangsa ini setelah merdeka kehilangan sumber energy untuk bergerak, karena cita-citanya memang sudah tercapai kalau cita-cita kita hanya sekedar memerdekakan Indonesia, mengusir penjajah Belanda, Portugis atau Jepang dari bumi pertiwi Indonesia ini. Cita-cita itu adalah cita-cita yang terlalu sederhana. Itulah sebabnya Al-qur’an sejak awal menitipkan satu cita-cita besar tanpa batas kepada Nabi Muhammad SAW:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)

“dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba : 28)

Maka kebangkitan Indonesia di masa yang akan datang itu –ikhwah sekalian-, membutuhkan suatu sumber energy besar yang tidak terbatas. Dan sumber energy besar yang tidak terbatas itu adalah pada cita-cita kita semuanya. Dan cita-cita yang kita warisi dari sejarah Indonesia ini menurut saya tidak lagi memadai untuk membangkitkan bangsa ini sekarang. Kita memerlukan suatu narasi baru, satu ide baru, satu cita-cita baru yang melampaui wilayah Republik ini untuk merangkul seluruh wilayah umat manusia dimuka bumi ini. Itu sebabnya ikhwah sekalian, cita-cita kita semuanya jika kita perbesar untuk merangkul seluruh umat manusia, maka kita akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW tentang agama ini :

لاَ يَبْلُغَنَّ هذا الدِّينَ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ والنَّهَارُ

Agama ini akan sampai ke seluruh muka bumi ini, akan menjangkau seluruh umat manusia sepanjang siang dan malam menjangkau mereka.

Negeri kita ini membutuhkan sebuah cita-cita baru sebagai sumber energi mereka. Dan cita-cita itu adalah haruslah merupakan cita-cita kemanusiaan. Itu sebabnya, ikhwah sekalian, kebangkitan Indonesia sekarang ini membutuhkan sebuah ruh baru. Dan ruh baru itu adalah Partai Keadilan Sejahtera.

Ruh baru inilah yang hilang dari republik kita ini. Dan karena itulah kita berjalan tertatih-tatih. Ruh baru inilah yang diperlukan oleh negeri kita sekarang, oleh seluruh masyarakat kita sekarang. Ruh baru inilah yang dibutuhkan mereka untuk mengalirkan energi baru kepada mereka. Energi untuk bergerak kembali seperti sebagai sebuah bangsa besar. Tetapi kita tidak bisa mengalirkan energi ini kecuali kalau kita memenuhi syarat kebangkitan ketiga yaitu mengakselerasi dan mempercepat munculnya al-qiyadah al-qawiyah (kepemimpinan yang kuat) di republik kita ini.

Ikhwah sekalian, saya mengatakan kepada ikhwah-ikhwah kita di Kaltim. Tahukah antum semuanya mengapa kita perlu memenangkan Pilkada di Kaltim? Karena sepertiga pendapatan negara kita berasal dari propinsi ini dengan penduduk hanya sekitar tiga jutaan dan pemilih 2,2 Juta. Wilayah ini adalah salah satu zona ekonomi besar tetapi mungkin kecil secara skala politik. Tetapi dengan memenangkan wilayah ini, antum melakukan suatu hal yang sangat fundamental dalam tujuan maqashidus syari’ah yaitu hifzhul maal (menjaga harta negara kita).

Kemudian saya mendapatkan informasi begitu banyak, dan saya kira antum tahu semuanya. Betapa kayanya negeri itu. Tetapi saya berjalan dari Balik papan ke Samarinda bolak balik, siang dan di malam hari di atas jalan-jalan yang semuanya sudah rusak dan sama sekali tidak nyaman untuk kita lalui. Lalu saya teringat kepada salah satu kalimat Umar bin Khatthab : “Jika ada seekor keledai yang jatuh di jalan-jalan Irak, maka saya akan ditanya oleh Allah SWT di hari akhirat. Mengapa kamu tidak memperbaiki jalan yang ada di Irak itu?”

Jadi Ikhwah sekalian, negeri kita ini adalah negeri ironi. Dan kebangkitan spiritual yang sudah kita miliki itu sejak tahun 80-an ketika kita memulai dakwah, tahun 90-an ketika kita mengembangkan dakwah kita dan membangun basis sosial tidaklah memadai kecuali kemudian kita memperbesar kerangka kita kembali dan merebut semua bagian hati bangsa Indonesia untuk kemudian mengambil kepercayaan besar mereka. Dan berada di garda depan menyelamatkan kehidupan bangsa yang besar ini.

Ikhwah sekalian, dalam semangat seperti itulah harusnya kita memahami kenapa kita harus memenangkan Pemilu 2009. Di tempat ini juga pada waktu kita melakukan kemah peduli pada tahun 2007 yang lalu. Saya menyatakan tentang tiga cita-cita kita, yang kita kuantifikasi dalam angka-angka. Ada yang apa kita sebut dengan cita-cita politik yang angkanya adalah 20%. Ada yang kita sebut dengan cita-cita dakwah, apabila gabungan suara partai-partai Islam ini sudah melampaui 50%. Dan ada yang kita sebut dengan cita-cita peradaban, apabila kita berhasil menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia Islam dan front liner saudara tertua Islam yang berada di baris depan berhadap-hadapan dengan peradaban lainnya. Dan kemudian secara perlahan-lahan menjadi kiblat peradaban kemanusiaan baru.

Itulah sebabnya ikhwah sekalian, walaupun berada dibawah penjajahan Inggris. Dalam keadaan yang sangat sulit, kita belajar dari satu fakta sejarah dari Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika beliau mengatakan tentang tujuh tujuah dakwah kita, dimana yang terakhir adalah ustadziyatul ‘alam. Bisakah antum membayangkan bahwa buruh-buruh, para petani, para nelayan, orang-orang papa dan nestapa di Mesir yang miskin, yang dihadapi oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna, yang tua dan renta. Diperkenalkan kepada mereka ma’na Islam pertama kali dan tujuan besar peradaban mereka ketika mereka masih hidup dibawah penjajahan. Lalu kepada mereka disampaikan doktrin bahwa pada suatu waktu kalian semuanya mempunyai satu tugas suci menjadi soko guru peradaban dunia. Bisakah kita membayangkan, apakah yang ada dalam pikiran Imam Syahid Hasan Al-Banna ketika itu? Dan apa yang ada di benak para petani, para buruh dan nelayan?

Dan sekarang ini tampak seperti eutopia, ketika PKS hanya 7, 34% lalu bercita-cita naik menjadi 20% dan tiba-tiba mempunyai mimpi besar menjadi pemimpin peradaban manusia. Ini bukan eutopia! Karena ikhwah sekalian kita ini (di PKS ini) mempunyai suatu tradisi kesadaran. Kita menyadari apa yang disebut oleh Rasulullah SAW: Rahimallahu man ‘arafa qadra nafsih. Allah merahmati kepada orang-orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya. Karena itu pada tahun 1997 kita membuat Rinja (Rencana Induk Jama’ah). Dan kita baru bercita-cita mendirikan partai pada tahun 2010. Tetapi Allah mempercepat target itu dan menjadikannya satu tahun kemudian dimana kita mendirikan partai pada tahun 1998. Sekarang dalam hitungan-hitungan normal, kita baru berfikir untuk melangkah menuju kepemimpinan nasional pada tahun 2014. Tetapi tampaknya Allah SWT mengirimkan tanda-tanda alam, tanda-tanda peradaban dan tanda-tanda kemanusiaan, juga tanda-tanda sejarah. Bahwa waktu yang kita rencanakan itu tampaknya akan dipercepat oleh Allah SWT.

Itulah yang bisa kita tafsirkan secara ijabiyah (positif) dalam perspektif dakwah kita ketika Allah memberikan kemenangan di Jawa Barat, di Sumatera Utara dan juga tiba-tiba di Kalimantan Timur. Berkali-kali ikhwah di Kalimantan Timur datang menemui kami di TPPN dan menyatakan bahwa di dalam survey mereka hanya di nomor 2. Tapi ketika saya kampanye di sana pada hari pertama, saya tiba-tiba merasakan bahwa ada aroma kemenangan yang tidak mereka cium sepenuhnya. Sejak itu kita sepenuhnya mengirimkan tim dari DPP, mulai membackup mereka secara full. Karena itu memang koalisi partai-partai kecil. Dan tiba-tiba saja dalam waktu yang sangat singkat peta politik di Kalimantan Timur berubah secara total.

Jadi ibarat gelombang –ikhwah sekalian- gelombang ini sedang datang. Ada pasang dalam sejarah kita saat ini. Dan oleh karena itu walaupun dengan segala kerendahan hati, kita mungkin tidak terlalu siap. Tetapi yang sangat kita khawatirkan adalah terulangnya seperti apa yang dikatakan oleh beberapa ikhwah di Jawa Barat. “Memang kami kalah dalam semua survey, tapi kami sangat khawatir dimenangkan oleh Allah SWT”. Kita juga khawatir –ikhwah sekalian- jangan-jangan kita hanya berniat masuk 3 besar, mendapatkan 20%. Tapi tiba-tiba Allah SWT mengubah peta politik kita ini dan menjadikannya lebih dari pada apa yang kita harapkan. Dan karena itu ikhwah sekalian, mental kita haruslah kita siapkan. Sebagaimana pada tahun 1997, ketika tiba-tiba mata kita terbelalak, bahwa pada tahun 1998 kita harus tiba-tiba mendirikan partai politik. Tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan. Tetapi Allah SWT memberikan kepada kita syarat yang sering saya ulangi, niat yang baik dan kemauan belajar itu cukup untuk memimpin.

Jadi ikhwah sekalian, kita harus menghilangkan dan kita harus mulai menswitch, memindahkan, mentransformasi mental kita. Bahwa sementara kita mempunyai target-target yang sekarang kita tetapkan. Tampaknya Allah SWT mengirimkan tanda-tanda yang lain dan karena itu mental kitapun harus kita persiapkan. Dan supaya mental kita itu harus kita siapkan, perlulah kita merubah beberapa paradigma di dalam pikiran kita. Yang selalu saya ulang-ulang dan sering saya sebut sebagai polisi tidur. Yang menghambat lajunya kita bergerak. Karena ikhwah sekalian kita ini (PKS ini) ibarat mobil, engine (kekuatannya) itu adalah 5000 cc, sopirnya jelas, penumpangnya jelas, tujuannya jelas, rutenya juga jelas, dilengkapi dengan GPS, semua sudah pasang seatbelt. Kita sedang akan masuk ke highway (jalan tol). Tetapi jika kendaraan besar ini, yang CC-nya besar ini disertai dengan jalanan yang mulus ini tidak berpadu maka akan ada masalah. Kita tidak akan sepenuhnya efektif. Dan karena itu perlu kita hilangkan polisi tidur ini.

Polisi tidur yang pertama ini adalah ‘uqdatul khaufi minan nashr (sindrom ketakutan untuk menang). Ada banyak ikhwah kita semuanya yang merasakan sindrom ketakutan ini. Takut untuk menang. Mereka takut menang karena merasa bahwasanya kemampuan kita belum memadai untuk memimpin republik ini. Itu ada benarnya, kalau kita benar-benar ingin rendah hati dan jujur di depan Allah SWT. Tetapi ikhwah sekalian, Allah itu tidak menurunkan ilmu sekaligus. Allah menurunkan ilmu bertahap-tahap.

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا (٨٥)

“….. dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (al-isra : 85).

Dan sebagian dari cara Allah SWT menurunkan ilmu adalah melalui benturan-benturan, melalui pengalaman-pengalaman, melalui kesalahan-kesalahan dan melalui amal. Dan karena itu Allah mengatakan kepada kita tentang cara Allah mengajar :

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

Bertakwalah kamu kepada Allah, nanti Allah yang akan mengajarkan kamu ilmu-ilmu. (al-baqoroh : 282)

Kita semua –ikhwah sekalian- tidak pernah tahu bagaimana mengelola dewan. Karena memang kita tidak punya pengalaman. Tapi hanya beberapa saat ketika kita masuk ke dewan, kita tahu bagaimana cara mengelolanya. Pimpinan partai ini –ikhwah sekalian- pada periode yang lalu, tidak satupun di antara mereka yang profesor-doktor dalam bidang ilmu politik. Tidak ada satupun di antara mereka yang profesor-doktor dalam bidang hukum tata negara, profesor-doktor dalam ilmu pemerintahan. Ada doktor dalam bidang akidah spesialis dalam aliran-aliran sesat, ada doctor dalam perbandingan madzhab. Tapi ketika beliau menjadi ketua MPR, bisa juga beliau menjalankan amanah itu dengan baik. Dan ketika doktor menjadi dubes, bisa juga beliau menjalan amanah itu lebih baik dari para pendahulunya.

Jadi ikhwah sekalian, Allah mengajarkan kita ilmu itu sedikit demi sedikit. Bisa antum bayangkan bumi yang bulat ini pada mulanya hanya dihuni oleh dua orang yang namanya Adam dan Hawa. Beratus-ratus kemudian, tiba-tiba penduduknya menjadi enam milyard. Pada mulanya hanya dua orang. Bisakah antum membayangkan? Jangankan bumi yang luas ini, antum ada di Cibubur saja kalau cuma dua orang , bisa antum bayangkan ngerinya menghadapi malam. Tapi coba lihat cara Allah mengelola kehidupan. Yang pertama kali dilakukan Allah kepada Adam begitu turun ke bumi ini adalah pembelajaran.

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣١)

31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (al-baqorah : 31)

Semua benda, semua perbuatan, semua pikiran diberi nama dan satu persatu dipelajari. Ketika pertama kali adam dan hawa melakukan hubungan seksual, Hawa bertanya kepada Adam; Ya Adam, Ma hadzaa? (apa namanya ini). Kata Adam : hadzaa jima’ (ini namanya jima’). Kata Hawa : zidnii minhu (tambah lagi). Berkat pengajaran itulah kita hadir sekarang di sini.

Jadi ikhwah sekalian, yang kita perlukan dalam memimpin itu adalah niat baik dan kemauan belajar. Itu sebabnya saya selalu mengulang-ulangi kalimat ini. Bagaimana caranya kita menjadi pembelajar yang cepat. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu. Saya bertemu dengan menteri yang bertanggung jawab dalam urusan minyak, karena dia minta dipahami oleh PKS. Saya bilang, “Bapak ini kan sudah delapan tahun menjadi menteri. Sejak tahun 2001 trend kenaikan harga minyak itu sudah luar biasa kelihatan. Kita tidak menyalahkan bapak karena menaikkan harga BBM. Yang kita salahkan itu karena bapak dari awal tidak mempunyai kebijakan energy. Itu saja masalahnya. Mau harga BBM naik itu adalah urusan dunia. Yang penting kita bisa survive dan itu yang tidak bapak pikirkan”.

Jadi ada gejolak yang terjadi di luar tetapi kita disini tidak pernah memikirkan antisipasinya. Padahal dulu Imam Abu Hanifah sudah pernah mengatakan, “Orang yang berilmu itu adalah orang yang menyiapkan jawaban sebelum dia diberi pertanyaan”. Jadi saya mengatakan bahwasanya protes besar pada pemerintah saat ini adalah badai yang dituai oleh pemerintah karena kemalasannya berfikir secara antisipatif menyediakan jawaban-jawaban, sikap-sikap, alternative-alternatif, kebijakan-kebijakan baru jika mereka menghadapi tantangan fluktuasi harga minyak dunia ini.

Dan sekarang ikhwah sekalian, Insya Allah salah satu bagian dari agenda kita yang terpenting nanti adalah begitu Partai Keadilan Sejahtera memimpin negeri ini, kita akan memunculkan apa yang kita sebut dengan New Economic Policy (kebijakan ekonomi baru). Saya bertemu dengan beberapa doktor ekonomi. Saya bilang, saya tidak terlalu ahli dalam ekonomi. Tetapi yang bisa saya pahami adalah hal-hal berikut ini. Ilmu ini adalah ilmu empiris. Dan yang namanya teori itu adalah kebenaran yang terulang-ulang. Yang kemudian dirumuskan, diformulasikan. Dia tidak ada sebelum pengalaman itu ada.

Teori itu adalah suatu rumusan atau suatu pengalaman. Dan apa yang kita pelajari dalam ilmu ekonomi makro dalam teori-teori makro ekonomi itu, pada mulanya adalah pengalaman rosevelt di Amerika. Ketika dia memimpin Amerika dalam sejarah, waktu Amerika menghadapi depresi ekonomi besar. Dan lucunya ikhwah sekalian, Rosevelt ini adalah satu-satunya presiden Amerika yang memimpin Amerika selama empat periode dan melanggar konstitusi Amerika. Dan orang ini lumpuh. Karena itu kalau beliau akan memberikan motivasi selalu menggunakan radio. Supaya tidak banyak orang yang tahu kalau dia itu lumpuh. Dia memang punya penasehat ekonomi yang namanya Kens. Tapi kemudian yang lebih penting adalah bahwa dia mempunyai suatu pengalaman yang kemudian dicatat dan diformulasi menjadi sebuah ilmu. Lalu orang perlahan-lahan mulai belajar bahwa ada sesuatu yang kita sebut dengan ekonomi makro.

Jadi kita kembalilah kepada persoalan ekonomi dasar ini. Ini adalah masalah yang sederhana, jangan dibikin rumit oleh para ilmuwan. Saya bilang kepada seorang ahli ekonomi yang sering muncul di TV, kalau teori itu adalah satu formulasi terhadap satu kebenaran yang terulang dalam praktek. Kan akhirnya teori itu sama seperti obat. Ada masa berlakunya. Apakah ibu yakin bahwa teori-teori ini, sekarang ini belum expired? Masih bisa kita pakai?. Saya hadir dalam suatu pertemuan dengan Goh Chok Tong (mantan perdana menteri Singapura) dalam acara pertemuan antara anggota parlemen muda dibawah empat puluh tahun Asia Timur dan Amerika Latin. Ada salah seorang peserta bertanya kepada Goh Chok Tong. Dia bilang, “Apa nasehat anda kepada kami di usia seperti kami”. Goh Chok Tong bilang, “Saya diutus oleh pemerintah Singapura belajar ke Amerika, Saya belajar di Harvard. Saya belajar ekonomi, belajar politik, belajar hukum, belajar semuanya. Begitu saya ke Singapura, saya tahu, saya menemukan fakta bahwa tidak satupun dari ilmu itu yang bisa saya pakai untuk mengatur Singapura. Dan saya benar-benar memulai belajar dari awal kembali”.

Jadi ikhwah sekalian, janganlah kita semuanya dibuat ragu oleh teori yang diperumit untuk masalah yang sebenarnya tidak terlalu rumit kalau kita benar-benar mau bekerja untuk rakyat kita semuanya. Dari dulu juga kita belajar dalam Sirah Nabawiyah, bahwa Bilal Bin Rabbah seorang budak. Pada suatu waktu pernah menjadi Gubernur di Syam dan kita tidak pernah menemukan suatu catatan dalam Sirah. Sejak kapan Bilal belajar di Lemhanas misalnya. Apalagi kuliah di Harvard. Yang kita temukan dalam fakta sejarah kita di Indonesia sekarang ini adalah bahwasanya negeri kita ini bangkrut di tangan para doktor-doktor itu semuanya. Bukan karena doktor negeri kita bangkrut, tapi saya ingin mengatakan bahwa itu sering kali tidak ada hubungannya.

Lebih dari itu persoalan masalah kompentensi tehnik itu yang kita perlukan. Yang lebih kita perlukan ikhwah sekalian adalah cara mengelola orang. Cara mengelola potensi-potensi terbaik bangsa ini. Dan Alhamdulillah kita di PKS ini mempunyai pengalaman yang sangat kaya dalam mengelola orang. Dan itu semuanya merupakan suatu modal yang cukup, jika kita memang benar-benar mendapatkan amanah memimpin bangsa ini. Jadi ikhwah sekalian kita tidak perlu ragu. Mengelola negara itu pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan mengelola SDIT. Dua-duanya adalah organisasi, sifat-sifat dasar pada organisasi itu sama pada kedua-duanya. SDIT punya bendahara, negara juga punya bendahara. Dulu sahabat Rasulullah ketika masuk ke Persi setelah menang dalam perang Qadisiyah, ada sahabat yang mendapat perak, dia tidak tahu kalau itu perak. Lalu dia makan, karena dia pikir bahwa itu garam. Tapi walaupun demikian mereka menjadi pemimpin peradaban. Apalagi antum semua adalah orang-orang yang terdidik. Tidak benar-benar mulai dari nol sama sekali. Karena itu, ikhwah sekalian. Sindrom ketakutan untuk menang ini yang disebabkan karena kita tidak percaya diri kepada kemampuan kita, itu perlu kita hilangkan pertama kali.

Yang kedua ikhwah sekalian yang membuat sindrom ini muncul adalah karena ada pemahaman yang berkembangan di kalangan kita semuanya dan menurut saya ini adalah pemahaman yang perlu kita luruskan. Kita perlu hati-hati pemahaman yang selalu memisahkan antara tarbiyah dengan politik. Kita perlu hati-hati menerjang kekuasaan karena itu adalah fitnah. Ikhwah sekalian, kekuasaan jelas adalah fitnah. Harta juga adalah fitnah, wanita juga adalah fitnah. Bukan hanya tiga ini, anak-anak juga adalah fitnah. Istri-istri kita juga semuanya adalah fitnah.

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, ada diantara isteri-isteri dan anak-anak kamu yang merupakan musuh bagi kamu, maka hati-hatilah kepada mereka. (at-taghabun : 14)

Kalau antum pulang, jangan membawa satu potong ayat ini. Insya Allah antum akan berubah pandangan kepada isteri antum semuanya. Juga berubah cara antum memandang anak-anak.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَ أَوْلاَدُكُمْ فِتْنَة

Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah. (at-taghabun ; 15)

Tapi coba kita lihat Rasulullah Saw. Ketika menyuruh kita menikah :

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج

wahai pemuda barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah.

Yang belum menikah niatkan segera untuk menikah. Sebelum pemilu 2009. Karena Rasulullah Saw mengatakan :

سراركم عزابكم وسرار ماتاكم عزابكم

Yang paling buruk diantara kalian adalah yang bujangan dan seburuk-seburuk orang yang mati adalah yang mati dalam keadaan bujang.

Begitu kita menikah Rasulullah mengatakan : tanaakahu takaatsaruu, menikah dan perbanyaklah anak-anak kalian.

Khalid bin Walid ketika anak-anaknya semuanya meninggal karena diserang tha’un semua anaknya 42 meninggal sekaligus. Yang paling terakhir meninggal di kalangan sahabat rasulullah adalah Anas bin Malik, anaknya lebih dari 100 dan umurnya pun lebih dari 100 tahun. Dulu waktu Rasulullah hidup rasio umat Islam dengan penduduk bumi adalah 1 : 1000. Seribu lima ratus kemudian rasio penduduk muslim dengan muslim adalah 1:5.

Apa rahasia dari pertumbuhan demografi yang dahsyat ini? Bahkan beberapa bulan yang lalu vatikan secara resmi mengumumkan bahwa jika agama-agama Kristen itu tidak dianggap satu (maksudnya sekte-sektenya dipecah; katolik, protestan) maka agama terbesar didunia ini adalah Islam, terhitung sejak tahun ini. Jumlah penduduk Islam di seluruh dunia adalah 20%. dan umat katolik turun menjadi 17%. Memang kalau digabungkan semuanya umat Kristiani ini menjadi 33%. Saya ingin menjelaskan kepada antum rahasia dari pertumbuhan demografi ini. Sebagian dari rahasia pertumbuhan demografi itu adalah : tanaakahu takaatsaru fa innii mukatsiron bikumul umamaa yaumal qiyamah. Wanita itu adalah indah. Tapi al-qur’an mengatakan pada waktu yang sama: Fankihuu maa thaabaalakum minann nisa matsnaa wa tsulaatsa

Begitu juga dengan harta, begitu juga dengan kekuasaan. Jadi ikhwah sekalian kalau iqomatuddiin (menegakkan agama) itu adalah faridhah syar’iyyah.

وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

Wa maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa waajib.

Dimana bagian dari proses iqomatud diin itu adalah iqomatud dunya – iqomatud daulah. Maka iqomatud daulah itu menjadi wajib bagi kita semuanya. Dan kalau itu semuanya merupakan suatu kewajiban -ikhwah sekalian- maka tentu ada rahasia yang perlu kita ketahui di sini. Rahasianya adalah karena ini adalah perintah. Tetapi di dalam perintah ini terkandung jebakan yang banyak. Jebakan itu adalah fitnah. Oleh karena itu yang bisa memikul beban perintah ini adalah orang-orang kuat. Maka ketika Abu dzar al-ghifari datang kepada Rasulullah SAW : يا رسول الله وليني Yaa Rasulallah walliinii (jadikan aku gubernur ya rasulullah). Rasululah mengatakan :

يا أبا ذر إنك ضعيف إنها أمانة وإنما يوم القيامة لندامة

Yaa Abaa dzar innaka dha’iif, innahaa amanah wa innamaa yaumal qiyaamah lanadaamah. Wahai Abu dzar sesungguhnya engkau lemah dan sesungguhnya ini adalah amanah dan tentunya ini di hari kiamat menjadi sumber penyesalan. Jadi kita semua ikhwah sekalian sedang memikul amanah yang sangat berat. Dan itu sebabnya Ibnu Taimiyah dalam as-siyaasah asy-syar’iyyah mengungkapkan

أفضل الأعمال الصالحة الأخذ بالولاية

afdhalul al-a’maala shalihah al-akhdzu bil wilayah

(amal shaleh yang paling afdhal adalah merebut kekuasaan).

Jadi antum sekarang -ikhwah sekalian- ada diambang pekerjaan amal shaleh yang paling afdhal itu. Sekarang coba antum lihat konflik apakah yang terjadi dikalangan sahabat begitu Rasulullah Saw wafat. Yaitu Bani Tsaqifah. Dan salah seorang pembesar Anshar itu, bahkan meninggal tidak sempat membai’at Abu Bakar. Tetapi ini semuanya memberikan kita kesadaran, bahwa ketika Ibnu Taimiyah mengatakan bahwasanya afdhalul al-a’maala shalihah al-akhdzu bil wilayah (amal shaleh yang paling baik adalah merebut kekuasaan). Dia juga tahu bahwasanya di dalam perintah ini terkandung banyak jebakan dan hanya orang kuat yang benar-benar bisa lolos di sini. Memiliki anak yang banyak –ikhwah sekalian- itu beban. Yang hanya bisa dipikul oleh orang-orang kuat. Begitu juga yang lain-lainnya.

Ikhwah sekalian, oleh karena itu pengingatan Qur’an ini tentang adanya unsur fitnah dan jebakan di dalamnya ini; di dalam kekuasaan, di dalam harta, di dalam wanita dan lain-lainnya semuanya itu peringatan. Ini sama sekali tidak mengandung unsur larangan, melainkan disertai dengan perintah. Tetapi peringatan ini penting untuk diberikan kepada kita semuanya. Supaya kita tidak mengubah apa yang sebenarnya yang merupakan sarana ini menjadi tujuan. Itu adalah intinya.

Maka, negara itu adalah alat yang kita perlukan. Harta itu juga alat bukan tujuan. Kita memerlukan hal itu sebagai sumber daya. Karena kita semua mengetahui suatu kaidah: Innallaha layaza’u bi shulthoni ma laa yaza’uhu bil qur’an. Sesungguhnya Allah bisa memberlakukan kehendaknya dengan kekuasaan, sesuatu yang tidak diberlakukannya dengan hanya al-qur’an. Inilah polisi tidur pertama yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semua.

Polisi tidur yang kedua yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semuanya adalah ‘uqdatul khaufi minal ‘aduw (sindrom ketakutan kepada lawan). Karena kita berpikir partai-partai besar itu masih terlalu besar untuk kita lampaui. Tetapi ikhwah sekalian, perlahan-lahan saya kira sindrom ini mulai hilang dari kepala kita semuanya. Kita sudah mempunyai pengalaman dikeroyok 20 partai di Jakarta. Dan kita telah menunjukkan eksistensi kita bahwa kita mampu bertahan. Bahkan ikhwah sekalian setelah Pilkada Jakarta ini, banyak sekali orang yang datang kepada kita di PKS ini untuk meminta dukungan PKS. Bukan terutama untuk menang dalam Pilkada, tetapi terutama untuk merasakan romantika perjuangan seperti itu. Jadi mereka merasakan bagaimana caranya partai ini bisa bertahan. Partai-partai lain mengatakan ini PKS tahu bahwa mereka akan kalah dalam pilkada, tapi mereka tetap menyuruh kadernya untuk maju karena mereka sedang menguji daya tahan kader-kadernya sendiri.

Jadi ikhwah sekalian, kita di Jawa Barat itu sebenarnya cukup rendah hati. Kita hanya ingin mengambil wakil pada mulanya. Kita datang kepada bapak Dani Setiawan, tapi kita ditolak. Kita datang lagi bertemu pak Agum Gumelar, saya sendiri datang bersama Ketua Majelis Syura. Kita pun ditolak. Akhirnya kita bilang: “Ya Allah tawakkal ‘alallah kita maju”. Saya bilang saat itu kepada Ahmad Heriyawan: “Anggap saja ini kawin kampung”. Ini ada dua orang bikin pesta besar di gedung. Kita bikin di pinggir jalan.

Seperti lagunya Rhoma Irama: “Apa artinya malam minggu bagi orang yang tak mampu. Mau ke pesta tidak beruang, akhirnya nongkrong di pinggir jalan.” Cuma karena kita bisa bikin pesta pinggiran jalan ini lebih menarik, orang yang ada di gedung-gedung besar itu keluar dari gedung datang joget di pesta ini.

Ikhwah sekalian, apalagi ada lingkungan media, lingkungan hawa politik dan juga hawa sosial, ada semacam tuntutan baru dari kalangan masyarakat ini. Karena telah bosan menyaksikan kegagalan para pemimpin transisi ini. Begitu kita menang di Jawa Barat, begitu kita menang di Sumatera Utara, mengapa tiba-tiba muncul isunya adalah pemimpin muda? Karena itu benar-benar adalah suara hati nurani masyarakat. Oleh karena itu ikhwah sekalian, panggilan hati nurani masyarakat inilah yang harus kita jawab sekarang. Dan menurut saya sepuluh tahun pembelajaran dan sepuluh tahun performance politik dalam tahun-tahun yang sulit ini, cukuplah bagi kita untuk mengambil kesimpulan bahwa PKS lahir di tengah krisis, tumbuh di tengah krisis dan Insya Allah akan keluar sebagai pemimpin di tengah krisis.

Sindrom yang ketiga yang harus kita hilangkan dari pikiran kita semuanya adalah kita sering kali berfikir janganlah kita terlalu terburu-buru memimpin negara. Nanti kejadian FIS di Al-jazair akan terjadi. Bagaimana nanti kalau kita gagal? Bagaimana nanti kalau kita diboikot oleh kekuasaan asing adidaya di dunia ini? Kita juga semua tahu bahwa untuk memimpin republik ini diperlukan empat hal. Dalam platform politik: yang pertama adalah bahwa kita diterima oleh kekuatan-kekuatan adidaya khususnya Amerika dan Eropa. Yang kedua kita diterima oleh kekuatan regional seperti China, Australia, dan Asia. Yang ketiga kita diterima oleh kekuatan-kekuatan politik lain di negeri kita sendiri. Dan yang keempat kalau kita punya solusi ekonomi.

Tapi ikhwah sekalian, kemarin di Kalsel ada Bedah buku platform. Saya ditanya oleh salah seorang pegawai Bank Indonesia yang menjadi panelis dan mengkritik buku platform kita ini. Saya mengatakan kepada mereka bahwa kita dari sekarang ingin mengatakan kepada dunia. Bahwa mereka sama sekali tidak punya alasan menolak kehadiran Partai Keadilan Sejahtera. Itu sebabnya sejak tahun 2005 kita sudah memasukkan ini dalam poin keempat dalam visi PKS 2004-2009. Meningkatkan penerimaan internasional terhadap PKS. Dan Insya Allah ikhwah sekalian, alhamdulillah semua draft-draft ini sudah kita siapkan. Kita akan menunjukkan juga kepada dunia bahwasanya kita mampu bekerja sama dengan semua kekuatan-kekuatan dunia saat ini. Kita kemarin sudah kedatangan Partai Buruh dari Australia dan meminta untuk segera kita menandatangani MOU kita dengan mereka setelah kita datang ke sana pada tahun lalu. Dan Insya Allah ini akan kita lakukan pada tahap ketiga dari tahapan kerja TPPN. Kita juga sudah mendapatkan draft surat dan kita sudah jawab draft surat dari Partai Komunis Cina untuk menandatangani MOU dan kerjasama bersama. Kita sudah menyampaikan kepada mereka bahwa rombongan PKS, karena kita diundang tahun ini ke sana, akan datang ke Beijing Insya Allah pada bulan Oktober tahun ini. Kita juga sudah mempunyai rencana kunjungan Insya Allah ke Turki. Semua akan kita tunjukkan bahwa sengaja kita ambil sample ini; Australia, Cina dan Turki. Semuanya bisa bersatu dan bekerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera.

Dan dengan begini ikhwah sekalian, kita belajar dari salah satu siasat Rasulullah Saw sebelum fathu makkah. Sebelum fathu makkah itu pada tahun ke-7 terjadi perang Mu’tah. Perang Mu’tah itu ikhwah sekalian, adalah perang yang terjadi antara tiga ribu pasukan kaum muslimin melawan dua ratus ribu pasukan romawi. Itulah pertempuran pertama jazirah arab dengan romawi. Empat orang komandan lapangan disitu syahid semuanya; Ja’far bin Abi thalib, Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah dan seterusnya. Kemudian tongkat komando diambil alih oleh Khalid bin Walid. Khalid bin walid berusaha menarik mundur pasukan ini. Begitu beliau kembali ke madinah, Khalid bin Walid dilempari batu oleh anak-anak madinah karena dianggap lari dari perang. Tapi Rasulullah disaat itu justeru memberi gelar kepada Khalid bin Walid, Syaifullah al-mashub (pedang Allah yang terhunus). Dan satu tahun kemudian terjadilah fathu makkah itu. Itu adalah diplomasi, bahwa pada tahun ke tujuh itu jika kaum muslimin sudah berhasil melawan Romawi. Sebenarnya Rasulullah ingin menyampaikan pesan kepada Quraisy: lawan kami sekarang ini bukan lagi Quraisy tapi Romawi. Dan secara perlahan-lahan ikhwah sekalian, kita mencoba membangun partai kita ini sebagai satu institusi politik yang mempunyai kualifikasi dan standard global, Insya Allah. Dan karena antum memiliki semua kelayakan untuk memimpin negara kita di kemudian hari.

Ikhwah sekalian, sindrom-sindrom inilah yang harus kita hilangkan semua dari kepala kita semuanya. Dan jika sindrom ini kita hilangkan, mengertilah kita mengapa kita pula perlu menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran kita semuanya untuk menang dalam pemilu 2009 nanti. Sekaligus pula kita perlu mengerti alasan yang mengharuskan kita menang. Bukan sekedar sebuah kebanggaan sejarah. Tetapi ini adalah suatu gerakan penyelamatan bangsa dan negara kita semuanya. Mudah-mudahan di tangan kita semuanya, di tangan-tangan yang setiap hari berwudlu ini. Di tangan-tangan yang setiap hari berwudlu dan mensucikan diri ini dan di depan / dihadapan wajah-wajah yang setiap hari bersujud ini. Insya Allah, Allah SWT membuka wajah Indonesia menjadi pusat peradaban dunia.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Disampaikan oleh ust Anis Matta Lc dalam Mutuwil DKI Jakarta, Mei 2008.

Indahnya Kesabaran

( Based on true story )

Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan dibanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.

Pemuda ini lulus dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit influensa, dan sejak saat itu fisiknya menjadi lemah hingga mudah terserang berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia menjadi lumpuh. Tubuhnyatidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan untuk pemuda itu sekitar 10% saja.

Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda itu cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.

”Alhamdulillah, saya dalam keadaan sehat-sehat saja. Saya berdoa kepada Allah Subhanaa huwataa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku mungkin saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”

Dr.Khalid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.

Dr.Khalid teringat akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesenangan ia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)

Jujur saja Dr.Khalid teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Pemuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bagi Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah maha tahu yang terbaik untukku.

Allahu Akbar, betapa kalimat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh program magisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembali dan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”

Ternyata menurut teman-temannya, pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senang sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.

Pemuda itu dengan spontan menyampaikan kabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.

Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupkan kembali menjadi manusia yang utuh.

Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hadapannya membuatnya terpana. Ia tak mampu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalan kembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimananlah yang dapat memunculkan keajaiban.

Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.

Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid.

Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!

Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.

(True Story , From : Khalid Abu Shalih)

Sumber : Majalah Elfata, Volume 07 2007 yang dipublikasikan kembali di Inspiring stories II, Facebook by Budi Hidayat

oOo

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya * Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya * Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan dan akan melipat gandakan pahala baginya”. [Ath-Thalaq :3 - 5]

” Allah adalah yang mencukupi orang yang bertawakal kepadanya dan yang menyandarkan kepada-Nya, yaitu Dia yang memberi ketenangan dari ketakutan orang ang takut, Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan dari-Nya dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam ebutuhan yang bermanfa’at.”

Dermawan Misterius

Penduduk Madinah gempar, pasalnya mereka mendapat kabar bahwa di rumah-rumah orang miskin selalu terkirim sekarung gandum yang digeletakan didepan pintu. Itu terjadi selama bertahun-tahun. Karung gandum itu datang lagi ketika persediaan gandum mereka sudah menipis.Seseorang telah mengirimkan gandum itu ketika mereka terlelap tidur.

Nampaknya lai-laki dermawan ini sangat hati-hati agar tidak dikenali masyarakat , Karena orang-orang selalu gagal memergoki Sang pengirim misterius ini. Padahal nereka hanya ingin mengucapkan terima kasih dan mengatakan betapa sangat berartinya sekarung gandum itu untuk keluarga mereka.

Walau berita ini menggemparkan, tapi sampai bertahun-tahun tidak ada seorangpun yang mengaku sebagai pengirim gandum tersebut. Memahami sang pengirim tidak mau diketahui identitasnya, maka penduduk miskin itu hanya mengirimkan doa ketika mendapati gandum tergeletak didepan pintu , agar Alloh SWT memuliakan sang dermawan di dunia dan di akhirat.

Suatu malam , setelah menyelesaikan sholat malam ,Zainal Abidin berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Dia memastikan malam itu sepi dan tidak ada seorangpun di jalanan. Kakinya menahan beban berat yang dia pikul.

Tiba-tiba seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya! “Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak…,” orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Zainal Abidin.

Beberapa saat Zaenal Abidin terperangah. “Ayo cepat! Mana uangnya?!” gertak orang itu sambil mengacungkan pisau. Zaenal Abidin dengan sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok sehingga membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Zaenal Abidin segera menarik topeng yang menutupi wajahnya.

“Siapa kau?!” tanya Zaenal Abidin sambil memperhatikan wajah orang itu.
“Ampun, Tuan….jangan siksa saya…saya hanya orang miskin…,”katanya ketakutan. “Kenapa kau merampokku?” Tanya Zaenal Abidin kemudian.
“Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan,” sahutnya dengan wajah pucat.

“Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu….” kata Ali Zaenal abidin.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Zaenal Abidin dengan takjub. “Sekarang pulanglah!” kata Zaenal Abidin. Orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis. “Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertaubat kepada Allah…saya berjanji tidak akan mengulanginya,” kata orang itu penuh sesal.

Zaenal Abidin mengangguk–anggukkan kepalanya. “Hai, orang yang bertaubat! Sungguh, Allah Maha pengampun.”

“Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini…,” kata Zaenal Abidin sebelum orang itu pergi. Pencuri itu pun berjanji. Pencuri Heran mengapa Zaenal Abidin melarang menceritakan pertemuannya malam itu…

oOo

Suatu ketika saat wafatnya Imam Ali Zainal Abidin, orang yang memandikan jenazahnya heran melihat bekas-bekas hitam di punggung jenazah Imam Ali Zaenal Abidin.

Lalu mereka pun bertanya,“Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini? Ini seperti bekas benda yang dipikul setiap hari ? Dari mana beliau mendapat bekas ini? ” Orang-orang keheranan. mengingat Imam Ali Zaenal abidin adalah Ulama besar, tetapi memiliki punggung menghitam seperti pengangkut barang ( kuli ) pasar.

“Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Imam Ali Zaenal Abidin ke seratus rumah di Madinah pada malam hari ” kata mantan pencuri yang telah bertaubat itu dengan rasa haru. Ia membocorkan rahasia yang tak terpecahkan selama bertahun-tahun

Menangislah orang-orang miskin yang selama ini selalu mendapat bantuan dari Ali Zaenal Abidin. Mereka baru tahu darimana datangnya Gandum yang menghidup keluarga mereka selama ini. Selama bertahun-tahun mereka tidak berhasil memergoki Sang Dermawan Mulia untuk mengucapkan terima kasih. Mereka baru mengetahui Lelaki mulia itu adalah : Ali Bin Husein Bin Ali bin Abi Thalib . Cucu Sahabat Ali bin Abi Thalib RA , sekaligus Cicit dari Rosululloh SAW.

—————————————————————————————-
Berkata Ibnu ‘Aisyah: Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” ( Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.)
—————————————————————————————-

“Zaenal Abidin” adalah gelar yang diberikan ummat islam kepada beliau. “Zaenal Abidin” artinya : Orang yang Indah Ibadahnya.Beliau juga punya gelas “As-sajad” artinya Orang yang lama sujudnya.Meninggal pada tahun 95 H/713 M dalam usia 57 tahun. Dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah.

Sumber : Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu/9
oOo

Dari Ibnu Mas’ud. Rasululloh SAW bersabda :”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908)

”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” [ HR Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377)]

Ya Alloh selamatkan amal-amal Kami, masukkan kami dalam hamba-Mu yang kau beri naungan di akhirat… amiin

Aku Akan Hidup Benar Dari Jam Ke Jam

Habis Sholat Isya, seorang Gadis kecil mendatangi ayahnya yang belum selesai sholat sunnah. Setelah mengucapkan salam, Sang ayah menatap anaknya.
” Ada apa, Nak ? “
“Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata,
“Tidak, nak. Manusia sering melakukan kekhilafan secara sadar maupun tidak. Itulah kenapa kita diperintahkan memohon ampun kepada Alloh setiap hari”.

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
“Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

“Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”

Ayahnya tertawa, “Itu sangat sulit, nak”.

“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”.

Ayahnya berfikir sebentar. Kemudian Ia mengangguk,
“Jika dia berusaha dan Alloh memberikan Hidayah, kemungkinan besar bisa”.

Anak ini tersenyum lega.
“Jika demikian, aku akan berusaha hidup benar dari jam ke jam, ayah.
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar…. “

Sang Ayah berkaca-kaca menatap Putrinya:
” Apa yang kau katakan penuh dengan Hikmah, semoga Alloh selalu memberimu petunjuk Nak..”

oOo
“Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” tanya Rosulullah.

Dengan paercaya diri ia menjawab, “Alhamdulillah, ya Rosulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.”

Rosulullah bertanya kembali, “Hai Hudzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya, maka apa bukti dari pernyataanmu itu?”

Jawab hudzaifah r.a. “Ya Rosulullah, tidak ada suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari, dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas didepan mataku syurga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya sikasa.”

Rosulullah Saw mengatakan, ” Arofta falzam, kamu sudah tahu maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”

Tolong, Maafkan Aku Kawan

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga.

Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

******

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.

Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.
Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan.**

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Catatan: Cerita ini pernah dimuat di milis resonansi pada tanggal 14
Oktober 2007, 29 Oktober 2005, 12 Nopember 2004, dan 2 September

Cintailah Apa Adanya

Cintailah Apa Adanya

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Hikmah : Di bawah naungan ajaran Islam, kedua pasangan suami istri menjalani hidup mereka dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain.

Di antara keagungan al-Qur’an dan kesempurnaannya, kita melihat semua makna tersebut, baik yang sempat terhitung atau pun tidak, tercermin pada satu ayat al-Qur’an, yaitu:
“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah:187)

Sumber :Inspiring Stories II from Facebook

Kiat Menata Keluarga

Sebelas Kiat Menata Keluarga Islami

karikatur_familiBagaimanakah wujud keluarga Islami itu? Bayangan anda tentang suami isteri yang bertingkah laku bagai malaikat serta rahmat Allah yang senantiasa melimpahi kebutuhan hidup mereka tentu bukanlah gambaran yang benar. Ajaran Islam sendiri merupakan ajaran yang dirancang bagi manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan dan siap diterapkan dalam berbagai keadaan yang menyertai hidup manusia.

Jadi, jika anda menemui goncangan-goncangan yang menyangkut diri anda dalam masalah pribadi, hubungan dengan suami atau isteri dan anak-anak, atau dalam berbagai kondisi yang menyertai keluarga, janganlah anda panik dulu atau merasa dunia hampir kiamat. Sebab, justru dalam momen seperti itulah anda dapat memperlihatkan komitmen sebagai seseorang sebelum dibuktikannya melalui amal kehidupan.

Ada beberapa hal yang patut anda perhatikan dalam upaya menumbuhkan keluarga bahagia menurut ajaran Islam atau dalam menghadapi berbagai persoalan, diantaranya;

1. Fikrah yang jelas
Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Kalaulah Umar bin Khattab menggebah para pedagang di pasar yang tidak memahami fiqih (perdagangan), maka layak dipandang sebagai sebuah kekeliruan besar seseorang yang menikah namun tak memahami dengan jelas apa hakekat pernikahan dalam Islam dan bagaimana kaitannya dengan kemajuan dakwah.

2. Penyatuan idealisme
Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Pada detik itu sesungguhnya tengah terjadi pertemuan dua pemikiran, perjumpaan dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.

3. Mengenal karakter pribadi
Kepribadian manusia ditentukan oleh berbagai unsur lingkungan: nilai yang diyakini dan pengaruh sosialisasi perilaku lingkungan terdekat serta lingkungan internal (sifat bawaan) itu sendiri. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Satu catatan penting mengenai hal ini ialah anda harus menyediakan kesabaran selama proses pengenalan itu berlangsung, sebab hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

4. Pemeliharaan kasih sayang
Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau isteri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban, meredam kemelut dan mengurangi rasa lapar.

5. Kontinuitas tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama. Penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab suami khususnya, kaum lelaki muslim umumnya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW meluluskan permintaan ta’lim (pengajaran) para wanita muslimah yang datang kepada beliau. Beliau memberikan kesempatan khusus bagi pembinaan wanita dan kaum ibu (ummahaat). Perbedaan perlakuan tarbiyah antara suami dan isteri akan membuat timpang pasangan itu dan akibatnya tentu kegoncangan rumah tangga.

6 Penataan ekonomi
Turunnya Surat al Ahzab yang berkaitan dengan ultimatum Allah SWT kepada para isteri Nabi SAW, erat kaitannya dengan persoalan ekonomi. Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah (bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh) adalah sikap yang patut ditampilkan isteri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).

7. Sikap kekeluargaan
Pernikahan antara dua anak manusia sebenarnya diiringi dengan pernikahan ”antara dua keluarga besar”, dari pihak isteri dan juga suami. Selayaknyalah, dalam batas-batas yang diizinkan syari’at, sebuah pernikahan tidak menghancurkan struktur serta suasana keluarga. Pernikahan janganlah membuat suami atau isteri kehilangan perhatian pada keluarganya (ayah, ibu, adik, kakak dan seterusnya). Menurunnya frekuensi interaksi fisik (dan ini wajar) tidak boleh berarti menurun pula perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, perlu ditegaskan juga bahwa pernikahan adalah sebuah lembaga legal (syar’i) yang harus dihormat keberadaannya. Sebuah kesalahan serius terjadi tatkala seorang isteri atau suami menghabiskan perhatiannya hanya untuk keluarganya msing-masing sehingga tanggung jawabnya sebagai pasangan keluarga di rumahnya sendiri terbengkalai.

8. Pembagian beban
Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta’awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.

9. Penyegaran
Manusia bukanlah robot-robot logam yang mati. Manusia mempunyai hati dan otak yang dapat mengalami kelelahan dan kejenuhan. Nabi SAW mengeritik seseorang yang menamatkan Al Quran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Dalam ta’lim beliau SAW juga memberikan selang waktu (dalam beberapa riwayat per pekan), tidak setiap saat atau setiap hari. Variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Dengan demikian, keluarga yang bahagia tdak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Di samping tarbiyah, keluarga membutuhkan rekreasi (perjalanan, diskusi-diskusi ringan, kemah, dll).

10. Menata diri
Allah SWT mengisyaratkan hubungan yang erat antara ketaqwaan dan yusran (kemudahan), makhrojan (jalan keluar). Faktor kefasikan atau rendahnya iman identik dengan kesukaran, kemelut dan jalan buntu. Patutlah pasangan muslim senantiasa menata dirinya masing-masing agar jalan panjang kehidupan rumah tangganya dapat diarungi tanpa hambatan dan rintangan yang menghancurkan.

11. Mengharapkan rahmat Allah
Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang Salih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan al Khaliq harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.